Selasa, 16 Juni 2020

Alunan Cinta Bertasbih Ale

Ketika orang bilang bahagia itu sederhana, itu benar..
Cinta pun juga sama..
Cinta itu sederhana..
Sesederhana ketika kau tersenyum melihat orang yang kau cinta bahagia..
Walaupun bahagia untuknya tak selalu sama dengan bahagia bersamanya..
***
Juli 2013
Bulan penuh ridha Tuhan itu kembali menghampiri. Satu tahun terasa begitu cepat untuk kembali berjumpa dengan bulan suci ini. Umat Muslim bersuka cita menyambut bulan penuh berkah, bulan dimana amal kebajikan manusia akan diganjar dengan pahala yang berlipat ganda. Tak terkecuali bagi Fatimah Marwa Alena, gadis belia yang baru saja keluar dari masa putih birunya. Seorang gadis yang energik, ramah, namun akan berubah menjadi sangat pendiam ketika bersama orang yang baru dikenalnya. Ia adalah gadis yang tampak angkuh dan dingin di mata orang-orang yang belum mengenalnya. Namun sesungguhnya, ia adalah gadis yang teramat menyenangkan.
“Ale, jangan lupa, malam ini malam pertama salat tarawih..!!” suara Nayla langsung terdengar seketika Ale mengangkat panggilan di telepon selularnya
“Mana bisa aku lupa, terlalu konyol..!!” ujar Ale sedikit terkekeh
“Mungkin saja kamu lupa. Kau kan sahabatku yang paling pelupa..”
“Aku terlalu gila apabila aku melupakan hal seperti ini, Nayla.”
“Baiklah, aku tunggu kau menjelang Isya’ malam nanti..”
“Tentu..”
Nayla Shafia Putri, sahabat Ale yang terpaut usia dua tahun di bawahnya. Persahabatan mereka begitu erat, mengingat persahabatan ini telah tercipta semenjak mereka masih kecil. Meski tak berada pada angkatan usia yang sama, namun kedua gadis ini merasa saling cocok untuk bersahabat.
Sahabat..
Malaikat yang Tuhan kirimkan untuk selalu berada di samping kita, turut melengkungkan bibir menyambut kebahagiaan kita, dan selalu mengulurkan tangan untuk memeluk kita, menghapus air mata kita, ketika kita merasa rapuh. Maka, Ale dan Nayla percaya, bahwa apabila mereka bersama-sama, mereka telah bersama malaikatnya masing-masing.
***
Ale dan Nayla sama-sama tumbuh di sebuah desa terpencil di ujung salah satu kota di Pulau Jawa. Sebuah tempat yang jauh dari kebisingan kota. Namun bukan berarti desa ini terlalu kolot, tertinggal akan kecanggihan zaman. Listrik, kendaraan bermotor, juga dikenal baik di sini. Tidak ada satupun rumah yang tak menggunakan lampu untuk menerangi rumah mereka ketika malam tiba. Siapapun di desa ini juga telah berkawan baik dengan benda kecil bernama ponsel untuk saling berkomunikasi. Dan sepeda bermesin bernama motor pun juga sudah dikenal masyarakat di desa ini dengan baik.
Malam pertama salat tarawih, pertanda esok akan dimulai puasa bulan Ramadan. Ale menghampiri Nayla di persimpangan jalan dekat rumah sahabatnya itu untuk berangkat bersama ke masjid. Malam itu, Masjid Irsyadul ‘Ibad penuh akan manusia yang ingin mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Menunaikan salat Isya’ dan ibadah sunnah salat Tarawih secara berjamaah. Diakhiri dengan melafalkan niat puasa bersama-sama, ibadah malam itu pun selesai. Para jamaah kemudian pulang ke rumah masing-masing, sembari bersiap untuk menunaikan ibadah puasa di keesokan hari. Terkecuali, segelintir dari mereka yang masih tinggal di masjid untuk bertadarus Al-Qur’an, termasuk Ale dan Nayla. Ayat demi ayat mereka baca bergantian. Dengan sebuah pengeras suara, seluruh penjuru desa mendengar suara mereka melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Desa yang sunyi ini semakin terasa damai dan aman, karena terjaga oleh hangatnya pelukan lantunan firman-Nya.
***
Adzan Maghrib baru saja berkumandang. Menandakan waktu berbuka di hari keempat puasa Ramadan tahun ini telah tiba. Ramadan tahun ini merupakan bulan Ramadan yang istimewa bagi Ale. Karena, mulai tahun ini ia memutuskan untuk berhijab. Seperti biasa, setelah berbuka puasa dan salat Maghrib, Ale akan berjalan kaki menuju masjid. Ia telah ditunggu Nayla di persimpangan jalan dekat rumah Nayla, setelah itu mereka akan bersama-sama menuju masjid. Terkadang, Ale tak hanya berdua dengan Nayla. Ia juga bersama kawan-kawannya yang lain. Seperti malam ini, Ale tengah berjalan bersama Adi dan Alan menuju masjid. Di persimpangan jalan mereka akan menjumpai Nayla dan adik sepupunya, Riko. Tak jarang pula, mereka juga menjemput Obi, si bungsu di antara pertemanan mereka berenam.
Di antara mereka berenam, Ale adalah yang paling tua. Meski berteman dengan orang-orang yang lebih muda, Ale tetap merasa bahagia dan nyaman. Bersama mereka berlima, otomatis Ale berperan sebagai seorang kakak. Bersama mereka pula, Ale secara alami melatih diri untuk selalu bertindak dewasa, bertanggung jawab, dan dapat menjaga kelima kawan yang sudah ia anggap seperti adik sendiri itu. Berkawan dengan ‘anak-anak’, bukan berarti Ale menutup diri dari teman-teman lain yang sebaya dengannya. Ia juga sering membaur bersama kawan-kawannya di karang taruna desa. Kepiawaiannya dalam berbicara memudahkan Ale untuk melebur dalam perbincangan dengan siapa saja. Tak mengenal bahasan maupun dengan siapa ia berbicara, ia merupakan lawan bicara yang menyenangkan.
“Mengapa air mukamu malam ini sangat terang, Ale?” tanya Nayla.
“Tidak akan mempan rayuanmu itu, Nay..”
“Aku tidak merayumu, jika saja kamu melihat cermin, kamu akan tahu seberapa nampak girangnya wajahmu saat ini. Ada apa gerangan? Kau terlihat begitu bahagia..”
“Entahlah, mungkin karena mimpiku semalam”
“Mimpi? Wajahmu merona hanya karena mimpi, Ale? Kamu seperti anak kecil saja,” ucap Nayla menahan tawa.
“Mimpi seperti apa sebenarnya yang mampu membuatmu begini?” lanjut Nayla
“Aku bermimpi berada di suatu ruangan yang luas dan megah. Di sana terdapat banyak lemari kaca yang menyimpan berbagai busana muslimah dan hijab yang cantik-cantik. Aku begitu tergoda untuk mencoba satu per satu pakaian indah itu. Namun rasa takut mencegahku untuk melakukannya.” Ale terdiam sejenak, menghembuskan nafas dan kembali melanjutkan cerita.
“Tapi tiba-tiba datang seorang pria yang langsung menggenggam tanganku. Mengajakku mendekat ke arah lemari kaca itu, dan mempersilakan aku untuk mencoba pakaian di dalamnya. Belum cukup sampai di situ, ia juga memakaikan hijab padaku sembari tersenyum. Dan…”
“Dan apa Ale??”
“Dan… dan tiba-tiba aku terbangun karena jam wekerku berbunyi untuk sahurku tadi pagi..”
“Sial.. Kau menipuku rupanya..!!”
“Hahaha, aku tidak menipumu Nay!! Mimpi indahku itu memang terpotong suara cempreng si Doraemon. Untuk pertama kalinya, aku sebal dengan Doraemon itu.”
Jam weker Ale memang berbentuk seperti salah satu tokoh kartun Jepang, Doraemon. Nayla tahu bahwa Ale tergila-gila dengan kartun robot kucing ini, sehingga ia menghadiahkan jam weker Doraemon itu ketika Ale memperingati hari kelahirannya tahun lalu.
“Mungkin ini adalah ucapan selamat datang dari malaikat untukmu, Ale. Mereka menyambutmu dengan tampilan baru, berhijab. Semoga semuanya akan menjadi keberuntunganmu,” ujar Nayla.
“Dan aku akan lebih bahagia jika aku bisa menyambutmu dengan busana yang sama denganku saat ini, Nay.”
“Entahlah, aku merasa belum terlalu baik memakai hijab. Perilakuku seperti tidak pantas apabila disandingkan dengan hijab. Aku hanya akan menodainya.”
“Percayalah, hijablah yang akan membersihkan noda itu”
“Yaa.. semoga malaikat dalam mimpimu itu juga segera mendatangi dan mengetuk kalbuku, Ale”
Perbincangan mereka terhenti ketika mereka melihat dua orang lelaki tengah duduk di sepeda motor yang diparkirkan di area parkiran masjid. Bukannya tidak-tidak, Ale dan Nayla hanya merasa heran, siapa gerangan dua orang itu? Wajah mereka sangat asing bagi Ale dan Nayla.
“Siapa gerangan mereka ya, Ale? Sepertinya sangat tidak familiar”
“Entahlah, mungkin hanya orang lewat yang sekedar singgah untuk tarawih,” jawab Ale acuh tak acuh
Namun, seacuh-acuhnya Ale, ketika ia lewat di depan dua orang asing itu, matanya tak mau berkompromi. Ia bahkan sempat melakukan kontak mata dengan salah satu di antaranya, walaupun tidak sampai tiga detik. Namun, hal itu malah membuat Ale merasa penasaran.
“Mata itu? Aku seperti pernah melihatnya, tapi siapa?” batinnya.
***
Kedua pemuda itu datang ke desa Ale bersama beberapa kawannya. Jumlahnya? Belasan orang yang datang ke desa itu. Mereka menjalankan tugas dari pondok pesantren tempat mereka menimba ilmu untuk praktek dakwah lapangan, singkatnya. Tak hanya datang ke desanya, tiga di antara sekelompok santri itu bahkan menginap di rumah Ale. Wajar memang, mengingat ayah Ale adalah tokoh yang penting, tepatnya sebagai seorang pemimpin di desanya. Ardhan, Zayn, dan Ilham. Ketiga pemuda itulah yang seminggu terakhir berada di rumahnya. Bagaimana reaksi Ale? Biasa saja. Bukankah sudah kukatakan? Ale akan bertransformasi menjadi sosok yang angkuh dan dingin di depan orang-orang yang asing baginya.
“Zayn, apakah kau perhatikan si Ale, anak sulung di rumah?” ucap Ardhan membuka pembicaraan siang itu di masjid.
“Memangnya kenapa? Aku tidak merasa ada sesuatu yang aneh darinya,” jawab Zayn.
“Tidak aneh bagaimana? Coba, dari semua orang di rumah, hanya dia yang tidak pernah berbicara dengan kita.”
“Memangnya kau mau bicara apa jika Ale mengajakmu bicara, Dhan?” kali ini suara bass Ilham muncul.
“Yaa, aku tidak tahu. Pokoknya dia terlihat angkuh. Tidak seperti keluarganya yang lain, mereka ramah-ramah.”
“Aku rasa Ale tidak angkuh, ia hanya menjaga diri. Buktinya, aku sering melihat ia bersenda gurau bersama teman-temannya.” Ilham kembali menyahut tanpa mengalihkan perhatian dari buku yang sedari tadi ia baca.
“Menjaga diri.. dari kita maksudmu? Memangnya kita ini apa? Teroris? Pembunuh?” sanggah Ardhan.
“Bukan menjaga diri dalam konteks seperti itu. Bagaimanapun juga ia seorang perempuan, apakah menjadi sesuatu yang pantas dilihat apabila ia tiba-tiba memulai pembicaraan dengan kita yang mungkin masih dianggapnya asing? Itu mungkin hanya salah satu bentuk kesopanannya.”
“Kau benar, ia perempuan. Gengsi dan harga dirinya sangat tinggi.” Ardhan mengangguk-angguk.
“Bersyukurlah masih ada perempuan seperti itu. Bahkan Ale satu-satunya gadis berhijab di desa ini. Banyak di antara kita, perempuan yang tidak peduli lagi dengan yang namanya malu dan harga diri, apalagi sampai mau berhijab. Naudzubillahimindzalik..” Ilham kini telah menutup bukunya. Pembicaraan Ardhan tentang Ale benar-benar sudah menghilangkan fokusnya dari kegiatan membaca.
“Kalau begitu, bukankah tidak sopan pula kalau kita hanya mengacuhkan dia? Jika Ale sebaik yang kau katakan, Ham, akankah lebih baik jika kita menyambung tali pertemanan dengannya? Bagaimana menurutmu, Zayn? Lebih baik kau sapa Ale lebih dulu.”
“Bukankah engkau yang penasaran dengannya, Dhan? Mengapa aku yang harus menyapa lebih dulu?” sahut Zayn.
“Karena hanya kau yang dari tadi diam, aku menjadi sedikit curiga terhadapmu..” Ardhan menatap Zayn dengan mata sipit yang dibuat-buat.
“Curiga apa? Lagipula, semakin misterius suatu hal, bukankah semakin menarik untuk dipecahkan?” Zayn menyunggingkan senyuman yang sulit diartikan. Ia kemudian berbaring di salah satu sudut masjid.
Ardhan dibuat melongo karenanya. Bingung atas maksud perkataan sahabatnya itu. Saat ia menengok ke arah Ilham pun, Ilham hanya mengangkat bahu dan ikut-ikutan berbaring seperti Zayn. Dan tinggallah Ardhan dengan berjuta tanda tanya di kepalanya, walaupun pada akhirnya ia menyerah dengan rasa penasaran itu dan memilih untuk berbaring juga. Menyusul kedua kawannya ke alam mimpi.
***
Apa yang dikatakan Ilham tempo hari benar adanya. Ardhan pun merasakan demikian. Hari demi hari Ardhan semakin mengerti dengan karakter Ale yang sebenarnya. Alih-alih membicarakan keangkuhan Ale, kini Ardhan-lah yang menjadi paling akrab dengan Ale daripada kedua kawannya yang lain. Setangguh-tangguhnya Ale terlihat, ia tetaplah seorang perempuan, makhluk yang lebih rapuh dibandingkan dengan kaum Adam. Ale yang dikenal Ardhan kini ialah sesosok gadis yang periang, dewasa, namun sisi kekanakannya juga masih sering muncul. Ale dianggapnya seperti adik sendiri, seorang adik dimana ia bertanggung jawab untuk menjaga dan melindunginya. Perasaan dan tanggung jawab itu secara alamiah hinggap pada Ardhan ketika ia telah mengenal Ale dengan baik, walaupun hanya dalam hitungan hari ia mencoba memahami pribadi gadis berusia belasan tahun itu.
“Mas Ardhan, Mas Zayn, Mas Ilham, mau ikut nggak?” seru Obi.
“Mau kemana, Bi?” sahut Zayn
“Jalan-jalan dong, mumpung masih pagi, kan seger udaranya.” Adi menyahut.
Ya, kini mereka tengah berada di masjid seusai menunaikan salat Shubuh berjamaah.
“Memang mau jalan-jalan kemana?” kali ini Ardhan yang menanggapi.
“Lihat sunrise, mau ikut?” tiba-tiba suara Ale muncul.
“Sunrise??!! Tentu saja aku mau..!! Bagaimana denganmu, Zayn?? Ham??”
“Kalian sajalah, aku mau membuat laporan dulu. Aku tidak enak hati untuk bersantai jika laporan ini belum selesai kukerjakan”. Wajar, sebagai ketua tim, tanggung jawab yang diemban Ilham memang lebih besar, contohnya saja dalam pembuatan laporan kegiatan yang harus disetor pada Ustadz pengawas mereka tiap minggunya. Zayn sesekali membantu, meski tidak banyak. Namun, jangan harap Ardhan akan turun tangan. Waktu senggangnya akan ia habiskan untuk berkeliling desa, mengajak berdialog  siapapun yang ia temui. Untuknya, berdialog dengan berbagai macam karakter manusia akan lebih membuka cakrawala pengetahuannya dibandingkan harus berkutat dengan laptop untuk membuat laporan kegiatan.
“Lalu kau, Zayn? Kurasa tak mungkin kau akan membantu Ilham, lebih baik kau ikut bersama kami.”
“Emm.. Bagaimana, ya?” Zayn menimang-nimang.
Ale yang mulai habis kesabaran melenggang keluar masjid begitu saja. Di luar ia langsung mengajak Nayla untuk lebih dulu berjalan, tidak peduli dengan siapa saja yang akan ikut. Suatu rutinitas kecil bagi enam sekawan ini. Usai salat Shubuh berjamaah di masjid, mereka akan berjalan-jalan menikmati segarnya udara pagi. Tak jauh-jauh, di selatan desa mereka terdapat bukit kecil dimana mereka akan disuguhi eloknya keindahan karya-Nya yang agung. Objek yang mereka sebut dengan sunrise atau matahari terbit.
“Ale, kau tadi mengajak kami, kan? Mengapa kini kami kau tinggalkan?” teriak Ardhan yang berada cukup jauh di belakang Ale dan Nayla.
Ale sejenak menoleh ke belakang. Sekilas, ia melihat bayangan Ardhan, Adi, Alan, Obi, Riko, dan seorang lagi yang ia yakini adalah Zayn.
“Tumben sekali si pendiam itu ikut bergabung dengan kami?” pikir Ale.
“Lho, bukannya itu mas Zayn, ya?” suara Nayla memecah lamunan Ale.
“Emm.. benarkah?” ucap Ale pura-pura tak mengerti.
“Iya, itu lho yang di samping Obi, yang sedang bermain gadget” tunjuk Nayla.
“Hey, tidak sopan menunjuk-nunjuk orang seperti itu, Nay..!” tegur Ale.
“Toh, juga tidak kelihatan, kan?” bela Nayla.
***
“Mahasuci Allah dengan segala keagungan-Nya..”
Kepala Zayn menoleh secara reflek ke arah sumber suara. Ale. Rentetan kata itu terukir dari bibir Ale setelah matanya menangkap siluet jingga yang disambut datangnya matahari, sumber panas utama kehidupan bumi.
“Semua orang berdecak kagum dengan segala keelokan yang mereka jumpai di bumi ini. Namun banyak dari mereka yang lupa untuk bertasbih, memuji Sang Pelukis keindahan alam ini.”
Kali ini Ale yang berganti menoleh ke arah Zayn. Mata mereka bertemu, hingga akhirnya terlihat senyum yang terukir di bibir mereka masing-masing. Tak jauh dari mereka, nampak pula seorang lelaki yang sedari tadi memang mengamati mereka berdua.
***
“Cinta itu memang indah. Benar kan, Zayn?” tanya Ardhan.
“Apa lagi yang akan kau bicarakan, Dhan?”
“Tidakkah kau dengar apa yang barusan kubicarakan? Cinta itu indah..”
“Iya, memang indah. Namun seindah-indahnya cinta manusia, cinta Allah kepada kita jauh lebih indah dan besar.”
“Benar. Kita harus berterima kasih pada-Nya karena telah menunjukkan indahnya rasa cinta itu kepada kita.” Ardhan mengucap sembari memejamkan matanya, namun senyuman tak terlepas dari bibirnya.
“Ale. Dia gadis yang baik, Zayn.” sambung Ardhan dengan mata yang masih terpejam
“Maksudmu apa?”
“Dia sudah kuanggap seperti adik sendiri. Setelah mengenalnya, aku merasa juga memiliki tanggung jawab untuk melindungi permata seelok dia. Alangkah bahagianya aku apabila kulihat ia mendapatkan seseorang yang akan menyerahkan segalanya untuk menjaga Ale, seseorang yang akan menjadi imamnya di dunia maupun di akhirat. Dan aku pun juga berharap, malaikat penjaga Ale adalah seseorang yang sudah kukenal dengan baik. Seseorang yang bisa kupercaya untuk menjaga adikku itu.”
Zayn hanya terdiam. Namun bibirnya tak bisa ia cegah untuk melengkung. Jantungnya pun berdebar kencang tanpa alasan. Sebenarnya bukan tanpa alasan, jantungnya berdebar kencang setelah ia mendengar sebuah nama.
Ale…
***
Tak terasa, Ramadan sebentar lagi akan usai, disambut satu hari berselimutkan kesucian, melahirkan kembali jiwa-jiwa yang telah dibalut dosa. Hari dimana kata maaf menghias bibir. Hari dimana tangan akan saling berjabat. Hari Raya Idul Fitri. Persiapan-persiapan kecil terlihat dimana-mana. Semua bersuka cita menyambut datangnya hari kemenangan. Termasuk di rumah sederhana Ale dan keluarganya. Kerja bakti membersihkan rumah sudah dimulai selepas Shubuh tadi. Bahkan tak hanya anggota keluarganya yang sibuk, ketiga santri yang tinggal di rumahnya itu juga ikut membantu. Jarum jam telah menunjukkan pukul 1 siang, segala persiapan di rumah Ale telah usai. Ia beristirahat sebentar, mengingat ia masih memiliki tanggung jawab lain. Masjid.
“Mas Dhan, masih capek?” tanya Ale
“Tidak. Ada apa memang? Masih ada yang harus dibantu?” jawab Ardhan.
“Masih, banyak malah..” Ale tersenyum jahil.
Ardhan menelan ludah, tak bisa membayangkan seberapa banyak pekerjaan yang masih harus ia selesaikan, mendengar ucapan Ale barusan.
“Masjid belum disiapkan untuk salat Ied minggu depan..”
“Ooo.. ternyata masjid. Tenang saja, kemarin aku, Ilham, dan Zayn sudah membersihkan bagian dalamnya, kok. Tinggal dibersihkan bagian luarnya saja..” kata Ardhan, menghela nafas pertanda lega. Setidaknya yang masih harus ia lakukan tidak terlalu berat.
“Alhamdulillah, kalau gitu. Ya sudah, kalau hanya tinggal yang luar, aku sama Nayla sanggup ngerjain berdua saja, kok..”
“Jangan begitu, nanti biar aku sama Zayn menyusul.”
Sama seperti Ardhan, Ale pun sudah menganggap Ardhan sebagai kakaknya sendiri. Sebagai seorang anak sulung, kedatangan Ardhan merupakan suatu anugrah baginya. Ia tahu, Ardhan mulai menyayanginya sebagai seorang adik. Begitu pula dirinya, rasa sayang kepada Ardhan sebagai kakaknya telah tumbuh. Sudah banyak ia dapatkan beragam tutur nasihat dari pria yang baru ia kenal selama sebulan terakhir ini. Ia tak hanya menyayangi Ardhan, namun juga menghormatinya.
Di persimpangan jalan, Ale sudah disambut Nayla dengan muka yang sedikit ditekuk. Sudah sedari tadi ia menunggu Ale, namun batang hidung sahabat yang telah dikenalnya bertahun-tahun itu tak juga kelihatan.
“Katanya tadi abis Dhuhur berangkat. Lumutan nih nunggu kamu..” sambut Nayla pada sahabatnya itu.
“Ingat ini puasa, Nayla.. Kesabaran kita memang sedang diuji..”
“Iya, deh.. Udah ayo, nanti keburu buka puasa..”
“Oiya, memangnya nanti selesai kalau hanya kita berdua yang mengerjakan? Apalagi sudah sesore ini baru akan kita mulai.”
“Tenang, kita nanti hanya akan bersih-bersih yang bagian luar. Selebihnya, sudah dibersihkan oleh mas Ardhan, mas Zayn, dan mas Ilham. Lagipula, nanti mas Ardhan bilang juga masih mau membantu.”
Nayla hanya terdiam mendengarkan penuturan Ale. Ale yang melihat gelagat aneh temannya hanya memicingkan mata kemudian berujar,
“Ada apa denganmu?”
“Tidak apa-apa, aku hanya berfikir, Ramadhan sebentar lagi usai. Berarti, kita akan segera berpisah dengan ketiga kakak kita itu.” Ucap Nayla dengan kesedihan yang tak bisa ia tutupi. Mencelos hati Ale mendengarnya. Ia baru teringat bahwa kebersamaannya bersama para santri itu akan segera berakhir. Beberapa hari lalu, ia tak sengaja mendengar obrolan ayahnya dengan Ilham.
“Insya Allah, kami pulang seusai salat Ied, Pak..” suara Ilham terdengar pertama kali.
“Lho, kok ya secepat itu. Tunggulah barang satu atau dua hari. Rencananya, di sini akan menggelar pagelaran budaya desa ini. Bagaimana kalau menunggu sampai setidaknya pertunjukan usai?” kata ayah Ale
“Sebenarnya, kami juga masih betah tinggal di sini. Saya sangat berterima kasih atas kemurahan hati Bapak sekeluarga menampung kami di sini. Namun apa daya, Pak, kami disini hanya menjalankan tugas dari pesantren. Berangkat ketika disuruh berangkat, dan harus segera pulang ketika dipanggil pulang. Saya minta maaf, Pak..”
Ayah Ale menghela nafas, menganggukkan kepala, kemudian tutur wibawanya kembali terdengar.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Ketahuilah, Ilham, di sini Bapak dan seluruh warga desa ini yang berterima kasih kepadamu, Ardhan, dan Zayn. Kalian bertiga sungguh membawa dampak besar bagi kemajuan agama di desa ini.  Contoh sederhana, jamaah masjid Ramadan tahun ini meningkat daripada tahun-tahun sebelumnya. Tidak lain dan tidak bukan, karena tausyiah dan khutbah kalian yang dinanti-nanti masyarakat sini.”
“Bapak juga sangat senang akan kedatangan kalian di rumah ini. Kalian bertiga sudah Bapak anggap sebagai anak sendiri. Jikalau memang kalian diharuskan untuk segera pulang, Bapak juga tidak berhak untuk mencegah. Bapak yakin di luar sana, tugas kalian masih banyak, masih banyak orang-orang yang harus kalian sadarkan tentang Islam. Yang pasti, pintu rumah ini selalu terbuka untuk kalian. Dan bahkan semua masyarakat desa ini selalu siap menyambut kedatangan kalian kapanpun kalian mau,” lanjut ayah Ale.
“Terima kasih, Pak, terima kasih…” Terselip nada haru dalam ungkapan terima kasih Ilham. Sebulan ini ia telah mendapatkan pengalaman, sahabat, saudara, dan keluarga baru tentunya. Jujur, ia sangat merasa nyaman berada di desa ini. Dan hatinya seakan tidak mau berpisah dengan mereka semua.
“Apa yang kau lamunkan, Ale?”
Ale terkejut mendengar teguran tersebut. Ternyata berasal dari Ardhan. Entah sejak kapan ia sudah tiba di masjid. Dan entah sudah berapa lama pula Ale melamun.
“Tt..ti..tidak ada. Aku tidak melamun,” jawab Ale sembari meneruskan pekerjaannya untuk menyapu halaman masjid.
“Benar kau tidak apa-apa? Mukamu agak aneh..”
“Aku baik-baik saja, mas Dhan. Tenanglah..” Ale mencoba tersenyum, walaupun tetap terlihat sedikit aneh. Senyumnya kali ini tak bersinar seperti biasanya. Ardhan hanya diam walaupun tetap curiga dengan gadis di hadapannya ini. Ia rasa ada sesuatu yang Ale sembunyikan, sesuatu yang berkaitan dengan hatinya.
“Minggu depan, seusai shalat Ied kami akan pulang, Ale..”
Tangan Ale berhenti mengayunkan sapu secara tiba-tiba. Namun untuk mengusir kecurigaan Ardhan, ia tetap meneruskan pekerjaannya itu, walaupun ia merasakan tangannya menjadi sangat berat dan sulit digerakkan.
“Iya, aku sudah tahu. Aku tidak sengaja mendengar mas Ilham berbicara pada ayah tentang kepulangan kalian. Yang mengganjal bagiku, kenapa aku tidak mendengar langsung darimu terlebih dahulu, Mas? Kau pasti sudah tahu jadwal kepulanganmu dari awal kan? Kau bilang aku adalah adikmu, tapi hal seperti ini malah kau sembunyikan dariku.”
“Maafkan aku, Ale. Aku hanya tidak mau membuatmu bersedih. Aku ingin mengisi kebersamaan kita dan kawan-kawan lain dengan penuh keceriaan, tanpa harus mengingat kapan kita akan berpisah. Tapi aku salah, aku justru menyakitimu.”
“Kau tidak melakukan kesalahan apapun. Maaf, aku yang terlalu egois. Aku.. aku hanya sedih jika berpisah dengan orang sebaik mas Dhan, mas Zayn, dan mas Ilham. Bagaimanapun juga, kalian adalah kakak yang aku sayang.” Ujar Ale.
“Tidak apa-apa, mas Ardhan. Aku yakin, dakwah kalian sangat dibutuhkan untuk orang-orang di luar sana. Aku dan semua orang di desa ini sudah mendapatkan ilmu yang cukup dari kalian bertiga. Kami akan selalu mendoakan keselamatan kalian. Aku yakin yang lain juga akan sependapat denganku.” tutur Ale tulus. Kini, senyum Ale terlihat anggun seperti biasa, bahkan menurut Ardhan senyum Ale kali ini berlipat kali lebih anggun, karena terselimuti oleh kedewasaan dan ketulusan.
“Jadi kalian akan pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan kami, Mas?”
Suara Alan terdengar tiba-tiba. Entah sejak kapan dia mendengarkan pembicaraan Ale dan Ardhan. Di belakang Alan, juga terdapat Adi, Riko, Obi, dan Nayla. Kesemuanya menatap Ardhan dan Ale dengan mata yang berkaca-kaca.
“Jangan salah paham adik-adikku.. Tidak ada niat kami meninggalkan kalian seperti itu..” Zayn muncul dari dalam masjid.
“Mari kita bicarakan di dalam masjid saja..” ajak Zayn pada Alan. Namun, tangannya disentak kuat ketika mencoba meraih tangan Alan.
“Tidak perlu..!!! Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan..!!. jawab Alan dengan nada yang dingin.
“Jangan seperti ini, Alan. Aku mohon, mari berbicara baik-baik..” ucap Ale.
“Kau sama saja, Ale..!! Kau sudah tahu hal ini, kan? Mengapa kau hanya diam? Hah, memang benar kami bukanlah siapa-siapa untuk kalian bertiga, berbeda dengan Ale. ” kini mata tajam Alan tertuju pada Ale.
“Aku..aku.. aku hanya..”
“Ale tidak salah, Alan. Walaupun ia tahu semuanya, bukan haknya untuk memberitahukan hal ini kepada kalian. Jika ada yang ingin kau salahkan, maka aku, Ardhan dan Ilhamlah yang patut kau salahkan.” Zayn memotong ucapan Ale.
“Sejujurnya, aku berharap aku bisa menjadi setidaknya teman bagi kalian, Mas, tapi aku salah besar. Aku tidak menyangka kalian menyembunyikan hal ini dari kami. Apakah kalian akan pergi begitu saja tanpa berpamitan? Tapi memangnya kami siapa kan ya? Tidak penting untuk kalian beri tahu. Jujur, aku kecewa..” ucap Alan yang kemudian meninggalkan semua teman-temannya, Ardhan, dan Zayn.
“Aku.. aku memang terkejut dengan semua ini. Tapi aku yakin, kalian pasti memiliki alasan. Dan apapun alasannya, aku yakin kalian tidak bermaksud menyakiti kami. Aku.. masih percaya kepada kalian, Mas..” ucap si pendiam Riko.
“Soal Alan, biar aku yang mengurusnya..” lanjut Riko lalu menyusul ke arah Alan pergi. Bukit selatan desa.
“Ayo, kita masuk ke masjid dulu. Tidak baik jika orang melihat kalian dalam keadaan menangis begini,” ajak Ale.
***
Riko menepuk bahu sahabatnya, Alan. Tebakannya benar tentang dimana Alan berada. Satu-satunya tempat bagi Alan mencurahkan perasaan dan tangisnya.
“Untuk apa kau datang kemari?! Mau membela mereka, hah?! “ ucap Alan sinis.
“Tidak.. Kau kira hanya kau yang terpukul mendengar ini semua? Aku juga..” jawab Riko sambil duduk di sebelah Alan.
“Mana kau tahu apa yang kurasakan..!! Kau kan tidak pernah dekat dengan mereka bertiga, kau hanya diam saja. Tapi aku? Aku sangat dekat dengan mereka, dan tega-teganya mereka seperti ini padaku..”
“Aku tidak bilang bahwa aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang. Dan kau benar, kau memang lebih dekat dengan mereka daripada aku. Selama ini aku memang hanya menjadi Riko si pendiam, Riko si pendengar. Walaupun begitu aku juga menghormati dan menyayangi mereka. Aku juga sangat sedih mendengar rencana kepulangan mereka yang tiba-tiba. Karena itu berarti, aku akan kembali merasakan kehilangan.”
“Tapi, apakah kau tahu, Alan? Tak selamanya melepas kepergian orang itu adalah sesuatu yang buruk.”
“Maksudmu?”
“Kau tidak lupa kan aku tidak berasal dari desa ini?”
“Tentu saja aku ingat. Kau berasal dari Magelang. Kalau tidak salah, waktu itu kau kelas 2 SD. Berarti, 5 tahun yang lalu, kan?”
“Iya, kau benar. Lalu, apakah kau tahu mengapa aku pindah kesini?”
“Ya, karena orangtuamu akan bekerja ke luar Jawa. Maka dari itu, kau pindah kesini, ikut dengan nenekmu. Iya, kan?”
“Itu benar. Tapi bukan menjadi alasan utama.”
“Lalu?”
“Ketika usiaku 3 tahun, aku memiliki seorang adik perempuan. Namun kala itu entah mengapa aku tidak menyukai fakta aku mempunyai seorang adik. Aku merasa semua perhatian dan kasih sayang orang tuaku hanya diberikan untuknya. Aku cemburu, sangat cemburu hingga membuatku benar-benar membenci adikku. Aku menjadi nakal dan sering menentang orangtuaku. Sampai puncaknya, waktu aku berumur 6 tahun –setahun sebelum kepindahanku-, aku sengaja mendorong adikku hingga terjatuh ke jalan raya tanpa tahu bahwa ada sebuah mobil yang melaju kencang kearahnya. Dan tabrakan itu tak dapat terelakkan, adikku meninggal di tempat.”
“Betapa kejamnya diriku. Merenggut kehidupan adik kecilku, adikku yang teramat menyayangiku. Aku masih beruntung orangtua ku selalu menganggap hal ini murni sebuah kecelakaan, dan mereka tidak membenciku. Sejak itulah aku menutup diri dari orang lain. Kepergian orang tuaku ke luar Jawa dan kepindahanku ke sini hanya karena ingin meninggalkan rumah kami di Magelang yang menjadi saksi bisu kenangan kami bersama adikku.”
“Kau.. mengapa hal seperti ini kau sembunyikan dari kami? Sahabatmu?”
“Bahkan Nayla yang notabenenya adalah sepupuku tak mengetahui hal ini. Aku memang tak berniat menceritakan kenangan pahit ini pada siapapun. Cukuplah aku, keluargaku, dan Tuhan yang tahu. Dan kalian juga biasa saja kan dengan sikap tertutupku selama ini? Tapi aku terkejut, ketika Mas Zayn bertanya tentang sikap pendiamku. Ia bisa menebak bahwa ada sesuatu yang kupendam yang membuat aku menjadi sangat pendiam dan tertutup. Dan ia menjadi orang pertama yang mendengar kisahku ini.”
“Saat itu, ia berkata bahwa aku hanya harus mengikhlaskan kepergian adikku. Karena mungkin dengan mengikhlaskannya adalah jalan terbaik bagiku, keluargaku dan bahkan bagi adikku. Ini semua sudah disuratkan oleh Yang Mahakuasa. Aku yakin, ia kini menjadi seorang malaikat penjaga dalam hidupku. Ia memang lebih pantas menjadi malaikat daripada hanya menjadi manusia seperti kita, karena kemuliaan hatinya. Aku mengikhlaskannya karena kepergiannya akan membuat ia bersinar.”
“Mengikhlaskannya karena kepergiannya akan membuat ia bersinar??” Alan menjadi tahu arah pembicaraan Riko.
“Kita sudah mendapatkan ilmu dari mereka bertiga lebih dari cukup. Masyarakat desa ini sudah menjadi semakin lebih taat agama karena mereka. Bayangkan apabila mereka terus melanjutkan dakwah ke luar sana, berapa banyak orang lagi yang akan menjadi taat agama? Tidakkah kau ingin mereka bertiga yang kau sayang itu bersinar? Bersinar karena ilmu yang mereka ajarkan kepada orang-orang.. Bersinar karena pahala sebagai ganjaran mereka dalam menegakkan agama Allah.. Kau benar-benar menyayangi mereka kan, Alan?”
***
Allahu Akbar..
Allahu Akbar..
Allahu Akbar..
Laa illaha ilallahu allahu akbar..
Allahu akbar wa lilla ilham..
Suara takbir, tahlil, dan tahmid menggema di gelapnya langit malam ini. Menyerukan kepada semua orang bahwa esok hari umat Muslim akan bersuka cita, menyambut datangnya hari yang fitrah. Mengumumkan kepada dunia bahwa besok adalah hari di mana umat Muslim meraih kemenangannya. Malam itu, terlihat segelintir wajah yang diselimuti guratan kesedihan. Ale dan kawan-kawannya telah berada di masjid selepas Maghrib tadi. Namun tak seperti biasanya, keceriaan dan keakraban di antara mereka sama sekali tidak nampak. Alasannya, tak lain karena peristiwa beberapa hari silam. Walaupun Ardhan dan Zayn telah berusaha menjelaskan, Nayla, Obi, dan Adi masih setengah hati menerima rencana kepulangan mereka besok. Bahkan tak terlihat batang hidung Alan selama berhari-hari. Sementara Ale dan Riko yang sudah memahami kondisi ini pun juga memilih untuk bungkam.
“Maafkan kami Ale.. Kami tak bermaksud membuat pertemanan kalian menjadi seperti ini.” Ilham membuka pembicaraan. Ia sempat syok setelah mendengar apa yang telah terjadi minggu lalu.
“Aku tidak berhak menyalahkan siapapun dalam hal ini, mas Ilham. Ini semua hanya salah faham semata. Justru aku yang harus meminta maaf padamu, mas Ardhan, dan mas Zayn atas tingkah kekanakan kami.”
“Ale, Nayla, Obi, Adi, Riko.. Ketahuilah, sungguh kami juga merasa berat hati harus meninggalkan kalian. Kami mengerti dengan sikap kalian ini. Kami yakin, kalian seperti ini karena kalian menyayangi kami. Namun, kami juga meminta pengertian dari kalian. Kami mengemban tugas untuk menyebarkan pengetahuan yang telah kami dapatkan dari pesantren. Ini tanggung jawab dan kewajiban kami. Kami tak bisa selamanya berada di sini. Di luar sana, masih banyak orang-orang yang lebih membutuhkan kami.”
“Bersama kalian, aku menjadi lebih mengerti tentang arti persahabatan. Aku juga banyak belajar dari kalian. Terima kasih sudah menerima kami di sini dengan baik. Terima kasih telah memberikan kami kesempatan untuk bersahabat dengan kalian. Tugas kami di sini telah usai. Kini, saatnya kalian yang meneruskan apa yang sudah kami ajarkan pada kalian. Aku percaya, kalian bisa menjadi tonggak penegak agama Allah di desa ini. Kalian adalah anak-anak yang baik, Adik-adikku. Aku yakin kalian mampu melakukannya demi kami, demi kemajuan desa ini, dan demi bakti kalian kepada Yang Maha Esa,” sambung Ardhan.
“Mm..mm..maa..maaf Mas…” Adi langsung menghambur ke pelukan Ardhan dengan air mata yang telah berlinang.
Disusul oleh Obi dan Riko yang juga dirangkul oleh Zayn dan Ilham. Sementara Nayla menggenggam erat tangan Ale. Kedua sahabat itu saling menguatkan dengan memberikan kehangatan dalam genggaman tangan mereka.
“Ckckck... Sampai kapan kalian mau seperti itu? Lihat, sudah jam berapa sekarang? Kalian lupa ini malam takbiran..?? Dasar cengeng..!!” tiba-tiba Alan sudah berada di pintu masjid. Setelah berkata demikian, ia melewati kerumunan orang yang tengah haru itu dengan santai, menuju mimbar untuk mengumandangkan takbir.
Namun, langkahnya terhenti ketika Adi, Obi, dan Riko memeluknya dari belakang. Kemudian menjitak kepalanya ramai-ramai, dan berakhir dengan suara tawa yang pecah di antara mereka. Tak mau ketinggalan, Ardhan dan Ilham turut bergabung dengan mereka. Sementara di belakang mereka, Ale, Nayla, dan Zayn ikut tertawa melihat kelakukan kekanakan mereka. Tak sengaja, pandangan mata Ale dan Zayn kembali bertemu. Melihat gelagat mereka berdua, Nayla pun memilih sedikit menjauh dari mereka.
“Kau perempuan yang baik Ale. Kau pasti bisa membimbing mereka dengan baik,” ucap Zayn.
“Aku belum menjadi orang yang sebaik yang kau kira, mas Zayn. Aku masih banyak memiliki kekurangan. Soal mereka, aku memang telah menganggap mereka seperti adikku sendiri. Aku menyayangi mereka seperti menyayangi diriku sendiri. Dan aku ingin berterima kasih kepada kalian. Kalian telah memberikan banyak hal kepada kami. Dari situlah, kalian secara tidak langsung telah mendewasakan kami berenam.”
Zayn mendekat kepada Ale, lalu memberikan sebuah kotak kecil yang ia simpan di balik jaketnya. Ale menerimanya dengan tatapan heran.
“Apa ini?”
“Bukalah ketika aku telah pergi dari desa ini..” Zayn kemudian berjalan menghampiri kawan-kawannya yang masih sibuk bersenda gurau. Bukan maksud untuk bergabung, melainkan mengajak mereka untuk segera mengumandangkan takbir.
***
Juli 2014
Pagi itu, terlihat berbagai kesibukan di rumah setiap warga di desa. Hari ini mereka semua kembali menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri. Setelah berbenah diri, mereka kemudian pergi ke masjid untuk menunaikan ibadah salat sunnah Idul Fitri.
“Ale, tidak bisakah kau berjalan lebih cepat? Lihatlah..!! Bahkan siput di dekat kakimu itu sudah mengejek cara berjalanmu yang lamban..” sungut Nayla.
“Kau memang tidak pernah berubah, Nay. Tidak sabaran, suka marah-marah.. Bahkan sepagi ini aku sudah mendengar omelanmu. Lihatlah!! Ulat di dekat kakimu itu sedang menggunjingkanmu yang marah-marah di hari lebaran.”
“Biar saja, aku kan belum meminta maaf padamu..”
“Dan.. apa yang kau maksud dengan aku yang tidak berubah? Apakah aku yang mengenakan hijab ini tidak menjadi semakin cantik, huh??” lanjut Nayla
Ya.. Beberapa bulan setelah kepergian ketiga santri itu, Nayla memutuskan untuk berhijab. Sehingga, kedua sahabat itu kini tak hanya lagi menjadi sepasang sahabat yang baik dan cantik, namun juga menjadi sepasang gadis muslimah yang begitu anggun dengan hijabnya. Pagi itu di Masjid Irsyadul ‘Ibad semua orang dengan khidmat menjalankan salat Idul Fitri. Setelah itu, mereka saling berjabat tangan, meminta maaf, berpelukan, bahkan tak sedikit yang tidak bisa menahan tangis haru.
***
Setelah ketiga santri itu pulang tahun lalu, keenam sekawan itu menjadi lebih akrab seiring berjalannya waktu. Mereka juga telah menjadi pemuda-pemudi yang lebih taat pada Tuhannya. Kini, mereka telah berada di bukit favorit mereka usai salat Shubuh bersama di masjid. Seperti biasa, menunggu momen indah yang juga merupakan favorit mereka, matahari terbit. Sejak tahun kemarin, mereka menjadi lebih sering mengunjungi bukit ini. Di bukit ini, telah terpatri berbagai kenangan indah bersama ketiga kakak yang mereka sayangi itu. Di sinilah mereka akan menghabiskan waktu ketika mereka merindukan ketiga sosok santri itu.
“Nomernya sibuk. Nomer HP mas Ardhan bahkan tidak bisa dihubungi..” ucap Riko yang langsung membuang ponselnya ke atas rerumputan di atas bukit.
“Bagaimana dengan mas Zayn?” tanya Alan penuh harap.
“Lebih parah, nomernya sudah tidak aktif dua bulan setelah mereka pulang.. Padahal aku hanya ingin menyampaikan ucapan hari raya pada mereka.” jawab Riko. Dari suaranya terselip nada keputusasaan. Ia kemudian berbaring di rerumputan bukit itu, yang kemudian disusul oleh Adi, Obi, dan Alan.
“Apa mungkin mereka telah melupakan kita?” tanya Nayla dengan sedih.
“Kita tidak boleh berburuk sangka seperti itu, Kawan.. Kita harus mengerti, pasti mereka sangat sibuk. Namun, mereka tak akan mungkin melupakan kita. Rasa sayang mereka kepada kita sama besarnya dengan rasa sayang kita kepada mereka. Bahkan mungkin lebih besar,” hibur Ale.
“Aku iri padamu, Ale.. Selalu saja kau bisa menilai sesuatu dengan positif. Apa yang membuatmu menjadi sekuat ini, Ale? Bukan bermaksud menyinggung, tapi jika kita fikir, kau itu menunggu sesuatu yang tidak pasti. Bukankah itu sulit?” Riko bertanya dengan hati-hati.
Semua yang ada di bukit itu sudah mengerti tentang ‘sesuatu’ yang dimaksud Riko tadi.
Zayn..
Ya.. Ale menunggunya.
“Tidak hanya sulit, tapi juga sakit. Namun, dengan menunggu setidaknya kita bisa belajar tentang apa itu kesabaran. Dan Allah menyayangi hamba-Nya yang mau dan mampu untuk bersabar. Allah pasti telah menyiapkan sesuatu yang sangat indah sebagai buah hasil kesabaran kita. Karena setahuku, buah kesabaran itu manis rasanya.. Apapun yang akan kita terima nantinya pasti adalah yang terbaik..”
Ddrrtt.. ddrrtt..
Ponsel Riko yang tergeletak pasrah itu tiba-tiba saja bergetar. Riko melihatnya sekilas kemudian menyipitkan matanya, tanda heran.
“Kenapa tidak diangkat, Rik?” tanya Nayla
“Nomor pribadi. Siapa ya??”
“Angkat saja, siapa tahu penting..”
“Halo, assalamualaikum..” terdengar sebuah suara di ujung telepon
“Waalaikumussalam..” jawab Riko.
“Ini benar nomornya Riko, kan?? Ini aku, Ardhan..”
“Mas Ardhan..!!!”
Seruan Riko tersebut sontak membuat kelima kepala di sekitar Riko langsung melesat menatapnya, setelah mendengar satu nama yang Riko sebutkan barusan.
***
“Mas Ardhaannn…!!!” teriak Adi dan Obi langsung menghambur ke arah seorang pemuda yang sangat mereka rindukan.
Ya.. Ardhan kembali ke desa itu. Menemui sahabat-sahabat kecilnya. Keenam sahabat yang ia rindukan.
“Mas Zayn dan Mas Ilham mana, Mas?” tanya Alan ketika mereka sudah berada di dalam masjid.
“Mereka titip salam dan menyuruhku untuk menyampaikan maaf pada kalian. Mereka tidak bisa datang,” ucap Ardhan dengan nada menyesal.
“Yahh.. Padahal aku juga ingin bertemu mereka..” kata Nayla.
“Ayolah, aku kan sudah datang jauh-jauh untuk menemui kalian. Apakah kehadiranku tidak cukup membuat kalian senang?” Ardhan pura-pura merajuk.
“Oiya, aku membawa oleh-oleh untuk kalian. Sana, ambil sendiri di mobil..!!”
Kesemuanya langsung melonjak girang dan berlari menuju ke arah mobil Ardhan. Kecuali Ale yang hanya tersenyum melihat kelakuan teman-temannya itu.
“Sepertinya kau menjadi sangat sibuk di luar sana, Mas, sampai mengabariku pun tidak pernah,” ujar Ale pada Ardhan.
“Maafkanlah kakakmu ini, Ale. Kau benar, aku menjadi sangat sibuk. Sepulang dari sini tahun lalu, kami ditempatkan secara terpisah di desa-desa terpencil, yang masih jauh dari kata Islam. Perjuangan dan tugasku di sana jauh lebih berat.”
“Tak usah diambil hati, aku hanya bercanda..” ucap Ale sambil tersenyum
“Tahukah kau? Senyuman darimu itu selalu kurindukan.”
“Darimana kau belajar untuk merayu perempuan??” Ardhan hanya terkekeh menanggapi pertanyaan Ale.
“Ngomong-ngomong, kesibukan apa yang membuat mas Zayn dan mas Ilham tidak bisa datang kemari bersamamu?” tanya Ale.
“Ayolah.. Kau sama saja dengan anak-anak. Apakah aku tidak cukup membuat kalian senang?”
“Jangan merajuk seperti anak kecil..!! Aku serius bertanya padamu..”
“Hehehe.. Iya, maaf. Ilham sekarang tengah sibuk dengan kuliahnya. Sudah 7 bulan ini ia berada di Al-Azhar, Kairo. Aku saja sudah lama tidak berkomunikasi dengannya. Mahal..”
“Kairo?? Mesir maksudmu??”
“Tentulah, mana ada kota di Indonesia bernama Kairo. Kau sebenarnya lulus SD atau tidak?”
“Subhanallah.. Aku ikut senang dan bangga mendengarnya..”
“Lalu… Bagaimana dengan mas Zayn?” Ale bertanya dengan lirih.
Ardhan terkesiap lalu menunduk tiba-tiba. Ia tahu, pertanyaan ini akan terlontar padanya. Namun sebenarnya ia tidak pernah siap untuk memberikan jawaban.
“Mas Ardhan, ada apa? Mengapa kau malah diam? Mas Zayn.. Dia baik-baik saja kan? Jawab aku..!!” Ale mulai cemas karena Ardhan tak kunjung menjawab pertanyaannya.
“Dia.. dia Alhamdulillah baik-baik saja. Hanya..”
“Hanya apa?”
“Ale, apapun yang akan kukatakan padamu, aku minta maaf. Aku tak mempunyai kuasa untuk mencegahnya. Dan apapun jawaban yang akan kuberikan, kumohon tetaplah tegar dan tabah..!!”
Kata-kata Ardhan itu membuat Ale semakin bingung. Ia merasa cemas dan takut untuk menduga-duga jawaban apa yang akan ia dengar dari mulut Ardhan. Setelah beberapa saat diselimuti keheningan, Ardhan menarik nafas dalam-dalam kemudian berujar,
“Zayn.. Dia pulang ke kampung halamannya di Sumatera. Dia kini.. tengah mempersiapkan rencana pernikahannya bulan depan..”
Jawaban Ardhan sontak membuat Ale sangat terkejut. Bahkan ia seperti lupa caranya bernafas. Tubuhnya kaku, sama sekali tak bisa digerakkan. Bibirnya beku, lidahnya kelu. Namun ia tetap menahan air matanya untuk tumpah. Wajah yang biasanya diselimuti keceriaan itu tiba-tiba berubah menjadi dingin dengan sorotan mata yang tajam. Ardhan tidak berani menatap wajah gadis itu. Ia merasa bersalah, sejak awal ia mendorong Ale agar dekat dengan Zayn. Sebelumnya ia percaya, apabila dua orang yang ia sayang itu dipersatukan, mereka akan bahagia untuk waktu yang tak terbatas. Namun yang terjadi jauh dari apa yang ia duga.
Beberapa waktu lalu, ketika mendengar rencana pernikahan Zayn, Ardhan tak segan-segan menghajar sahabatnya itu hingga babak belur. Ia tak menyangka, Zayn akan mematahkan kepercayaannya untuk menjaga Ale. Apalagi Zayn juga memberikan respon dan harapan pada Ale. Namun, ini semua juga bukan kehendak Zayn. Pernikahan ini merupakan perjodohan yang telah diatur orang tuanya. Ia dijodohkan dengan putri dari seorang Kyai kenalan ayahnya. Dan Zayn tidak akan mungkin berani membantah apa yang telah diinginkan orang tuanya, ia tidak mau menjadi anak durhaka.
***
-Flashback-
Dua jam setelah Ale melepas kepulangan Ardhan, Zayn, dan Ilham, ia pergi ke bukit selatan desa. Ia menikmati semilir angin sore yang memainkan jilbab biru mudanya. Tangannya kemudian merogoh saku sebelah kanan jaketnya. Sebuah kotak kecil dengan pita emas pemberian Zayn semalam. Dengan hati-hati, ia membuka kotak tersebut. Di dalamnya, ia menemukan sebuah liontin berbentuk hati. Ia membuka liontin tersebut, ternyata berisikan ukiran nama “Zayn – Ale”. Mulut Ale menganga melihat liontin tersebut. Setelah ia amati, di dalam kotak itu juga terdapat secarik kertas. Ia membukanya perlahan, kemudian membaca barisan-barisan tinta di dalamnya.
Teruntuk permata serupa malaikat,
Fatimah Marwa Alena
Aku bukanlah penyair yang mahir dalam menulis untaian kata yang indah
Aku bukanlah penyanyi yang suaranya mampu menggetarkan jiwa
Aku bukan pula seorang pendebat yang pandai bersilat kata
Aku bukanlah mentari yang cahyanya menghangatkan raga
yang begitu elok ketika pagi tiba
yang cantik bersama siluet jingga ketika senja menyapa
Aku tidak bisa mendamaikan hati bagai tenangnya samudera
Aku tidak seharum melati putih
Tidak pula seelok bintang yang berkedip-kedip di kelamnya malam
Aku hanyalah seorang Rahfid Zaynal Ihsannubis
Seorang pemuda tanpa keahlian apa-apa
Tanpa secuil harta
Tanpa ketampanan rupa
Tanpa berdayanya raga
Seorang Rahfid Zaynal Ihsannubis
Yang dengan beraninya mencinta seorang malaikat
Berparas sempurna
Bercahya dengan imannya
Malaikat bernama Fatimah Marwa Alena
Aku hanya bisa mencintaimu dengan sederhana
Sesederhana kau melengkungkan bibir setiap berbicara
Sesederhana kau melangkahkan kaki dengan riang
Sesederhana kau berbicara dengan ramah
Sesederhana kau melambaikan tangan untuk menyapa
Aku yang bukan siapa-siapa ini juga tak mengharap lebih
Jangankan mengharap kau memakai liontin itu,
Berharap kau tak membuangnya saja aku tak berani
Namun apabila..
Rasa ini bukanlah rasa yang tak terbalas
Maka izinkanlah aku sekali lagi mengucap kata cinta
Pakailah liontin itu sebagai tanda terdapat rasa yang sama
Tunggulah aku dengan kesabaran hatimu
Berilah aku waktu untuk kembali menemuimu
Menemui seorang gadis yang kupuja
Tunggu aku barang 4 atau 5 tahun
Dan akan kubawa segenap keluarga
Untuk meminangmu, wahai permata elokku
Fatimah Marwa Alena
Rahfid Zaynal Ihsannubis
***
Ale meremas sebuah kertas dalam genggaman tangan kirinya. Meluapkan amarah dan emosi yang kini membuncah di hatinya. Air matanya telah menganak sungai. Namun ia menangis tanpa suara. Kawan.. tahukah kalian, tangisan tanpa suara menandakan ia benar-benar tersayat hatinya. Begitu pula yang terjadi pada diri Ale. Perlahan tangan kanannya menyentuh liontin yang selama setahun ini ia pakai. Liontin tanda sebuah penantian. Penantiannya untuk Zayn, lelaki yang mencuri hatinya setahun yang lalu. Lelaki yang benar-benar ia dambakan menjadi imam baginya. Lelaki yang menyatakan cinta padanya melalui sebuah goresan tinta dengan ukiran kata-kata indah untuknya. Namun apa daya, semua harapan yang ia tumpukan pada lelaki itu kini musnah sudah. Zayn akan menikah, sebulan lagi, dengan gadis pilihan orang tuanya. Dan itu sudah tentu bukanlah dia. Mengingat kenyataan ini, semakin membuat luka di dalam hatinya menganga lebar. Sakit teramat sakit.
Beberapa meter di belakangnya, kelima kawannya ditambah Ardhan tengah mengamatinya yang telah bersimpuh selama satu jam di bukit itu. Satu jam, menangis, dan tanpa suara. Dapatkah kau bayangkan betapa sakitnya ia sekarang? Nayla tak bisa menahan air matanya agar tak jatuh. Riko, Adi, Alan, dan Obi juga merasakan pedih yang dirasakan Ale. Mereka semua tidak tega melihat Ale, pelindung mereka selama ini tersakiti kalbunya, tergores jiwanya. Bahkan Ardhan ikut menitikkan air mata melihat Ale yang tengah terluka. Terluka karena cinta. Nayla lalu melepas pelukan sepupunya dan berniat menghampiri Ale. Namun, Riko mencegahnya.
“Jangan dulu, Nay. Ale butuh waktu untuk sendiri.”
“Sampai kapan kita hanya menontonnya seperti ini. Satu jam, sudah satu jam, Riko, ia seperti ini. Aku tidak bisa hanya diam saja. Aku harus menguatkannya.” Nayla kemudian menghampiri Ale.
Hampir saja Riko ingin mencegah Nayla kembali, namun suara Ardhan menghentikannya..
“Biarkan Nayla menghampirinya. Di antara kita, hanya dialah yang paling bisa mengerti apa yang dirasakan Ale. Dan hanya dia pulalah yang paling bisa menguatkan dan mengobati kesedihan Ale untuk saat ini. Mereka sama-sama perempuan, makhluk yang bahkan bisa saling berkomunikasi hanya melalui hati mereka. Itu adalah salah satu kelebihan perempuan dibandingkan dengan kita.”
Tepat setelah Ardhan selesai berkata demikian, terdengar suara Ale yang menangis meraung-raung. Ia menangis di pelukan Nayla yang sama-sama berurai air mata.
“Teriaklah, Ale. Sekeras yang kau bisa, luapkan semua emosi dan amarahmu. Jangan hanya diam!! Lukamu.. hanya kau sendiri yang bisa mengobatinya. Keluarkan semuanya, menangislah dengan keras, teriaklah..!! Dan setelah ini kau harus melupakannya. Melupakan semua rasa sakit yang kini kau rasa. Buang semuanya sekarang, jangan sisakan sedikitpun..!!” kata Nayla dengan keras. Dan Ale menuruti perkataan Nayla. Ia kini menangis dengan menjerit, berteriak, dan meraung-raung. Membuat pilu siapapun yang mendengarnya.
***
Sejak saat itu, tiap satu bulan sekali, Ardhan menyempatkan diri untuk mengunjungi enam sekawan sahabatnya. Kebetulan, tempat tugasnya saat ini tidak terlalu jauh dari desa. Ia bahkan sering menginap di rumah keenam kawannya itu secara bergantian.
Apa kabar dengan Ale?
Ia memang sosok yang luar biasa. Setelah menangis meraung-raung di bukit kala itu, ia kembali menjadi Ale seperti biasa. Ale si periang, ramah, dan dewasa. Bahkan ia menyempatkan diri mengirimkan e-mail kepada Zayn untuk memberinya ucapan selamat atas pernikahannya.
Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh,
Kakakku, sahabatku..
Selamat mengarungi biduk rumah tangga, mas Zayn. Kami titip salam untuk istrimu. Oiya, kawan-kawan bilang mereka ingin melihat istrimu. Jadi, kapan kau dan istri mengunjungi kami? Atau, setidaknya kirimkan foto kalian. Mas Ardhan setiap bulan rutin berkunjung, bahkan mas Ilham sudah mengunjungi kami di sela-sela liburannya dari Al-Azhar. Tinggal kau saja yang belum berkunjung. Kami tetap menantikan kehadiranmu dan istri.
Semoga barakah Allah selalu menghampiri keluarga barumu, Saudaraku mas Zayn. Kami akan selalu mendoakan kebahagiaanmu. Dan aku akan selalu berbahagia untukmu.
Salam persahabatan dan persaudaraan..
Fatimah Marwa Alena
Kau lihat? Ale tidak sedikitpun menyinggung perasaannya pada Zayn, lelaki yang bahkan pernah menyatakan cinta padanya dan justru menikah dengan orang lain. Tidak ada dendam, tidak ada kebencian. Ia telah melupakan rasa sakitnya, melupakan lukanya, walaupun belum bisa secara utuh melupakan cinta di hatinya.
“Lihat.. Kau melamun lagi..!!”
Ale terkesiap, terkejut akan kedatangan Ardhan.
“Kau terlalu sering membuatku terkejut, mas Dhan. Lama-lama aku bisa terkena serangan jantung karenamu.”
“Itu karena kau terlalu sering melamun, hingga kau tidak sadar ada orang lain menghampirimu.”
“Maaf, ya.. Aku tidak bermaksud mengacuhkanmu.”
Ardhan kemudian duduk di samping Ale. Tepat setelah ia duduk, Ale memberikan sebuah kotak kecil padanya.
“Aku tidak bisa menyimpan ataupun membuangnya. Jadi bisakah kau saja yang membawanya?”
Kotak itu tak lain adalah kotak yang diberikan Zayn pada Ale. Tak ketinggalan beserta liontin dan kertas berisi puisi Zayn untuknya. Ardhan hanya tersenyum kemudian menerima kotak tersebut. Sungguh, tak ada kata-kata yang mampu ia ucapkan untuk menggambarkan seorang Ale. Ia benar-benar kagum pada ketegaran adiknya ini. Sebenarnya, besar harapan Ardhan untuk bisa melihat Zayn dan Ale, dua orang yang ia sayangi itu bersatu. Namun Allah berkehendak lain. Zayn tak tercipta untuk Ale dan Ale tak tercipta untuk Zayn.
“Bulan depan Zayn akan datang berkunjung, bersama istrinya..” lirih Ardhan, takut menyakiti Ale.
“Benarkah?? Itu bagus, anak-anak pasti akan senang..”
“Iya, mereka pasti senang. Lalu bagaimana denganmu, Ale?”
“Tentu saja juga senang. Siapa yang tidak senang bila akan berjumpa kembali dengan kawan lama?”
 Tak terdengar nada kesedihan atau amarah pada ucapannya. Ia benar-benar tulus mengatakannya. Dalam hati, Ardhan hanya meyakini bahwa akan ada seorang malaikat berwujud lelaki rupawan yang akan mendampingi Ale, di dunia dan akhirat. Lelaki yang akan jauh lebih sempurna dari Zayn. Karena permata seperti Ale sangatlah mahal harganya. Dan Ale meyakini, bahwa Allah telah menyuratkan kebahagiaan Zayn pada istrinya, bukan Ale. Memang benar, Ale tulus mencintai Zayn, tapi ia yakin cinta Allah pada Zayn jauh lebih besar. Ale tak pernah menyesal menunggu Zayn. Karena ia tetap yakin kesabarannya selama ini tetap aman berbuah manis. Walau mungkin bukan Zayn jawaban dari kesabarannya itu, tapi Ale yakin Allah akan memberikan sesuatu yang jauh lebih indah.
Ia tahu, Allah akan memberikannya sesuatu yang ia butuhkan, bukan hanya sesuatu yang ia inginkan. Karena yang ia inginkan belum tentu yang terbaik baginya. Rencana Allah jauh lebih sempurna untuknya. Ia pasti akan segera menemukan kebahagiaannya bersama dengan lelaki yang bukan hanya pilihannya, namun juga pilihan Allah untuknya. Yaitu, ketika hatinya telah mematri satu nama dan ketika alunan cinta telah bertasbih kepada-Nya.


-Uly-

Senin, 02 September 2019

Harus pilih minat apa ??

Minat Studi Agroekoteknologi

Agronomi
Agronomi adalah sistem pertanian yang mengedepankan pada budidaya tanaman pangan, dimana pada sistem ini menggabungkan jenis-jenis paket teknologi dari sederhana sampai moderen, mulai dari pemilihan benih, jarak tanam, rotasi tanaman, irigasi dan drainase, pengendalian hama dan gulma. Agronomi mengedepankan terhadap peningkatan hasil produksi pertanian dengan berbagai macam sistem pemilihan budidaya. Di fakultas pertanian unram khususnya prodi Agroekoteknologi dengan peminatan agronomi, lebih banyak masih berkutat seputaran tentang budidaya tanaman pangan, dengan topik padi, kacang-kacangan, jagung dan ubi serta tanaman sereal. Sedamgkan paket teknologi modern belum terlalu diteliti seperti perbanyakan tanaman secara teknik kultur jaringan karena masih belum mampu ditunjang dari segi fasilitas. Berbicara tentang agronomi sebenarnya tidak hanya berfokus pada tanaman pangan, tapi juga berfokus terhadap tanaman industri dan perkebunan, seperti tanaman kopi, karet, cengkeh, kelapa sawit, tembakau dan tanaman palawija. Keterbatasan teknologi disini membuat  sebagian mahasiswa berpikir bahwa minat agronomi hanya berkutat di sistem budidaya tanaman pangan saja. Agronomi mengedepankan pada prinsip pertanian yang berkelanjutan dengan menjaga input dan output hasil produksi yang tetap setabil setiapkali produksi, dimana tetap memperhatikan aspek-aspek ekologi supaya tetap terjaga demi keberlangsungan hasil pertanian. Yang perlu dicatat tentang agronomi adalah mempelajari pada sistem budidayanya bukan objeknya, kebanyakan mahasiswa berpikir hanya pada objek tanaman pangan saja (Ihsan, 2019).
Hama dan Penyakit Tanaman
Hama adalah makhluk hidup yang dapat menyebabkan kerugian secara ekonomis pada dunia pertanian, sedangkan penyakit merupakan suatu rangkain gejala yang diakibatkan oleh pathogen (penyebab penyakit) yang dapat merugikan secara ekonomis pada tanaman. Minat hama dan penyakit tanaman terkhususnya hama saat ini merupakan salah satu momok yang sangat ditakuti oleh petani, karena serangannya mampu memyebabkan gagal panen. Berbicara masalah hama tidak akan habisnya, karena setiap saat hama selalu berevolusi dan berkembang menjadi lebih survive serta banyak mucul hama-hama baru pada dunia pertanian. Penelitian dibidang hama sangat luas dan tidak akan habisnya untuk diteliti, salah satu keinginan terbesar saya juga meneliti tentang serangan gejala wereng hijau pada tanaman padi karena ini sangat mersahkan petani, dimana pada tahun 2016 serangan hama ini menyebabkan gagal panen di daerah sakra timur, dimana daya serangan sangat ganas dalam waktu 2-6 hari, tanaman padi yang sudah memasuki fase masak susu harus menguning dan kering dan selanjutnya mati. Yang ingin saya tekankan disini adalah bahwa hama sangat berpotensi untuk menyebabkan gagal panen pda segala macam bidang budidaya tanaman, baik horti ataupun perkebunan serta tanaman pangan. Sehingga orang-orang yang terjun dalam bidang ini saya berharap mampu memberikan solusi dalam bidang pertanian baik dari segi cara pengendalian dan meminimalisir penggunaan pestisida organik sintetik yang dapat membunuh musuh alami, sedangkan penyakit saya tidak bisa menjabarkan terlalu jauh karena kapasitas keilmuan yang saya miliki belum mampu untuk menguraikanya. Orang-orang yang berkecimpung dalam dunia hama adalah orang-orang kreatif, karena bagi saya pribadi orang yang meneliti hama dituntut untuk trus berinovasi menemukan hama baru dan cara mengendalikanya. Saat ini sudah mulai banyak yang meneliti tentang penyebaran hama-hama baru dan itu perlu ditingkatkan guna memberikan informasi kepada petani, pemerintah untuk meberikan solusi bagi petani. (Ihsan, 2019).
Pemuliaan Tanaman
Pemuliaan tanaman merupakan sebuah minat di Prodi agroekoteknologi yang berfokus pada cara bagaimana untuk menghasilkan tanaman/varietas unggul melalui cara-cara konvensional maupun modern. Cara konvensional disini berupa persilangan biasa (penyerbukan tanaman), sedangkan secara modern dapat berupa pemanfaatan teknologi seperti kultur invitro ( kultur jaringan, kultur sel, kultur protoplast, dll), rekayasa genetika, teknik clonning gen, dll. Pada intinya, pemuliaan tanaman berkaitan dengan bagaimana mengotak-atik gen tanaman untuk menghasilkan tanaman baru ( Mala, 2019).
Orang-orang yang berkecimpung di bidang pemuliaan tanaman harus memiliki jiwa yang ulet dan tekun serta telaten, karena untuk menciptakan suatu varietas tanaman yang unggul butuh waktu yang lama untuk menguji hasilnya dan mendapatkan sifat unggul yang baru. Yang masuk minat pemuliaan tanaman harus ekstra sabar karena sering mengalami kegagalan dalam melakukan penyilangan (Ihsan, 2019).

Hortikultura
Hortikultura adalah sistem budidaya yang hanya berfokus pada tanaman sayur, tanaman buah, tanaman obat dan tanaman khias. Minat hortikultura saat ini sangat digandrungi oleh kaum muda sebagai salah satu usaha yang dikembangkan terutama pada tanaman sayur. Selain itu minat hortikultura saat ini sangat berkembang pesat dalam kemajuan agroekowisata dan industri dimana menggabungkan tanaman horti dengan wisata sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat. Orang yang berkecimpung dibidang hortikultura dipersiapkan untuk mampu berdaya saing dalam dunia industri prkebunan buah, sayur, khias dan obat-obatan. Selain itu juga orang-orang hortikultura dituntut untuk menyiapkan produk hasil pertanian yang segar dengan mempelajari pengelolaan pasca panen dengan tujuan agar terjaga hasil-hasil produksi pertanian. Di prodi agroekoteknologi fakultas pertanian unram akan dipelajari segala hal tentang produk hortikultura dan pengolahan pasca panen (Ihsan, 2019)

Alunan Cinta Bertasbih Ale Ketika orang bilang bahagia itu sederhana, itu benar.. Cinta pun juga sama.. Cinta itu sederhana.. Ses...